Skip to main content

PANCASILA BUKAN UNTUK DILUPAKAN

 '' PANCASILA BUKAN UNTUK DILUPAKAN ''


Sebagai warga Negara dengan selalu menginginkan Negara lebih baik sudah merupakan tanggung jawab moral dari anak bangsa itu sendiri agar saling mengingatkan baik itu dengan individu terhadap individu, individu terhadap kelompok, kelompok terhadap individu, kelompok terhadap kelompok supaya dewasanya saling menghargai jasa-jasa para pencetus, pahlawan demi membangun bangsa ini kearah lebih baik dan bermartabat.
 Maka dari itu, saya tertarik untuk menulis dalam postingan saya tentang “Pancasila bukan untuk dilupakan”. Namun mengapa saya mengangkat tema ini ? dalam beberapa diskusi baik mengenai Pancasila, sering saya mendengar dan menyaksikan bahwa pada saat ini individu sebagai anak bangsa itu sendiri sudah mulai melupakan ideologi bangsa itu sendiri, meskipun tidak semuanya benar. Hal ini yang menjadikan renungan untuk kita sehingga saya menulisnya.

Namun dilain sisi Pancasila sudah merupakan sesuatu yang final sebagai ideologi Bangsa ini. Sangat besar harapan tulisan saya pada saat ini menjadi sesuatu yang bermanfaat sehingga dapat dipahami, jika dalam tulisan saya ini memiliki kata-kata yang salah, saya memohon untuk dimaafkan..

Pada hari ini, tepatnya pada tanggal 1 juni 2018, kita semua telah menyadari bahwa kita telah diperingati akan lahirnya Pancasila. Dalam masanya Pancasila telah disepakati sebagai ideologi Indonesia itu sendiri, melalui proses yang sangat panjang, Pancasila yang dicanangkan pada akhirnya disampaikan bung Karno pada pidatonya kala itu, dengan lima sila pada tanggal 1 juni 1945.
Dalam gagasan yang disampaikan Presiden RI yang pertama itu, menghasilkan simpati yang luar biasa dari peserta sidang BPUPKI pada saat itu. Pancasila merupakan acuan dalam bernegara, dalam artian Pancasila bukan hanya sebagai dasar Negara, melainkan menjadi penentu arah bagaimana Bangsa ini kedepannya, hal yang palin terpenting ialah bagaimana anak Bangsa ini menyadari bahwa Pancasila ialah wadah yang menyediakan petunjuk arah sebagai satu kesatuan Negara dari sekian banyak perbedaan agar tidak terombang ambing dari berbagai  pengaruh yang ingin menghancurkan Bangsa ini


Kembali mengingat saat Bapak Jokowi (Presiden RI) menyampaikan pidato pada hari lahir Pancasila yaitu, 1 juni 2018 mengatakan, “Pancasila berperan sebagai falsafah dan dasar negara yang kokoh, yang menjadi fondasi dibangunnya Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya,
Dewasa ini, ditengah penghayatan Pancasila. Bapak Jokowi menggagas visinya sebagai Presiden yaitu, “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong" hal ini selaras pada inti dari Pancasila itu sendiri yaitu Gotong royong. Gotong royong sudah menjadi suatu budaya meski sudah mulai pudar pada saat ini dan diyakini sebagai jawaban atas permasalahan-permasalahan yang melanda Bangsa ini. Namun pertanyaannya, sudah sejauh mana gotong royong ini terjalankan ? atau hanya menjadi budaya kelam yang terlupakan ?

Permasalahan-permasalahan moral yang terjadi semakin tak karuan, hujat menghujat, saling menyalahkan, saling menjatuhkan sudah tidak jarang lagi terjadi yang menjadikan Negara ini buta akan nilai Pancasila itu sendiri. Dalam hal ini kita selaku anak bangsa menyadari bahwa hal ini dapat dibenahi melalui penghayatan yang lebih terhadap Pancasila itu sendiri agar dapat menjalankan nilai-nilai dari Pancasila itu sendiri dalam kehidupan berbangsa.

Masyarakat Indonesia pasti mengenal istilah gotong royong. Akan tetapi budaya yang menjadi ciri khas Indonesia tersebut seakan semakin luntur di masyarakat. Padahal budaya kebersamaan ini penting dan berkontribusi dalam membangun persatuan dan kesatuan. Oleh Karena itu, sudah seharusnya semangat gotong royong ini dihidupkan dan digencarkan kembali di semua lapisan masyarakat.
71 tahun yang lalu tepat pada tanggal 1 juni 1945, Bung Karno berpidato di hadapan Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bung Karno sengaja berpidato di akhir sidang untuk menyerap segala aspirasi dan segala ide dan pemikiran dari tokoh-tokoh founding fathers yang lain. Sebelum Bung Karno berpidato ada banyak tokoh mengemukakan apa yang harus menjadi dasar negara Negara Indonesia yang akan merdeka. sedangkan, Tokoh Islam saat itu yang dikomandoi oleh Ki Bagus Hadikusumo (Tokoh Muhammadiyah) dan KH Wahid Hasyim (Tokoh Nahdatul Ulama) mengemukakan Islam sebagai Dasar Negara. Kaum nasionalis sekular antara lain Bung Hatta dan Mohammad Yamin menolak salah satu agama dijadikan sebagai dasar negara. Namun, kedua tokoh tidak secara eksplisit menyebutkan apa alternatifnya, hanya mengemukakan butir-butir dasar filosofis untuk negara Indonesia Merdeka. Bung Karno sudah memahami situasi yang ada dalam persidangan BPUPKI. Beliau mencoba untuk mempersatukan dua golongan yang berseberangan ini. Semua hadirin saat itu sudah sangat kenal bahwa Bung Karno adalah orator ulung dan pidatonya bisa sangat punya daya pikat yang kuat. Dalam pidatonya beliau memuji kalangan Islam dan khususnya isi pidato Ki Bagus Hadikusumo. Bung Karno sendiri sebenarnya termasuk tokoh nasionalis sekuler, namun berkali-kali menyatakan dirinya pengagum Muhammadiyah dan pernah berpesan jika beliau wafat dishalati oleh tokoh Muhammadiyah (keinginan Bung Karno akhirnya terkabul. Buya HAMKA yang mengimami shalat jenazah Bung Karno).

Dengan akalnya yang cerdas dan cemerlang, Bung Karno mencoba untuk melahirkan sebuah sintesa baru. Sintesa itu bernama Pancasila. Sebenarnya dasar-dasar yang diajukan oleh Bung Karno tidaklah luar biasa. Namun, karena pidato itu ditutup dengan sebuah istilah yang menarik: Pancasila, seolah-olah dasar negara Indonesia mempunyai alternatif baru. Dasar negara kita bukanlah agama, bukan pula sekuler. Tapi dasar negara kita adalah Pancasila.
Diera sekarang ini tidak jarang kita mendengar banyak diantara yang mengeluh Pancasila sudah mulai pudar. Kita tahu pada perkembangan zaman pada saat ini, akibatnya nasionlisme itupun mulai memudar, seakan tak punya daya pikat.
Dewasa ini kita hanya merasakan nasionalisme itu ada ketika diajang sepak bola yang mana tim kesayangan kita yang berasal dari negeri ini melawan tim dari Negara lain, suara satu kesatuan itu timbul ketika pertandingan itu dimulai dengan landasan cinta tanah air. Namun ketika tim kesayangan kita kalah, masih adakah nasinolime itu ada ? lantas kesenangan mana lagi yang dapat kita peroleh ? persatuan nasionalisme mana lagi yang kita dapat ?
Kita harus mempunyai jiwa optimisme dalam hal pembangunan Negeri ini, dengan menyadari bahwa Indonesia adalah Negara yang kaya, tapi sangat disayangkan kekayaan itu dipenjarakan oleh penjajah asing yang berbulu neolib ditambah lagi dengan kekayaan domestik yang direbut oleh pejabat Negeri itu sendiri melalui KKN ( Korupsi, Kolusi, Nepotisme ). Kita menyadari bahwa yang perlu diperbaiki adalah mental anak bangsa itu sendiri melalui sifat Pancasilais, sebaik apapun, sehebat apapun peraturan atau pemimpin kalau mental dari anak bangsa itu sendiri tidak baik itu hanya menjadi kesia-siaan belaka. Kita dapat melihat beberapa kasus dalam beberapa bulan belakangan ini sekelas lembaga pengadilan sekalipun dimana tempat masyarakat mencari keadilan kini sudah diambang “kehancuran”.

Apa jadinya jika Pancasila tanpa kekuatan mental dari anak bangsa itu sendiri ?. Pancasila saat ini ibaratkan perisai baja yang ditubuh para seradu yang lemah tanpa mental dan keberanian yang kuat. Dalam kenyataannya nilai-nilai Pancasila itu akan terus menyala-nyala ketika masyarakat memahami dengan bergotong royong bersama. Syarat utamanya ialah dengan sistem politik yang sehat dan membangun kepercayaan rakyat terhadap Negara ini untuk menjadi “jembatan emas menuju kejayaan.

Ketika mengingat hari kelahiran Pancasila kita melihat kaum diNegeri ini turut mengingat dan merindukan akan apa yang telah engkau coba persatukan dalam menjadikan bangsa ini sebagai dasar ideologi.
Kelahirannya sungguh mulia untuk pemersatuan dan tonggak diNegeri ini.
Sungguh, sungguh, sungguh berat beban yang Ia pikul.
Tidak jarang Pancasila menyaksikan atas apa yang tidak dengan keinginanmu, tidak dengan tujuan dan ideologi
Wahai Pancasila,
saat ini engkau masih berjuang, engkau masih mencanangkan untuk itu. Lima sila yang engkau canangkan merupakan tonggak bagi Negeri ini.
Terimakasih Pancasila, kelahiranmu sungguh mulia, sudah saatnya kaum Negeri ini hidup kembali berdasarkan Pancasila.

Comments

Popular posts from this blog

Stop Pembodohan

SAYA SUDAH BODOH ! Mengapa demikian ? Melihat kejadian sekarang ini sebagian masyarakat banyak memilih pemimpin fleksibel akan peraturan yang dicanangkan oleh pemerintah itu sendiri, terlebih dalam hal memillih pemimpin negeri ini.  Gambar Ilustrasi kebanyakan masyrakat lebih memilih pemimpin yang lebih menguntungkan dirinya sendiri atau lebih mengedepankan pekerjaan dengan mempermudah segala urusan melalui pemimpin yang fleksibel atau dengan kata lain sebagai faktor jasa imbalan, ketika sipemilih telah memilih sang politikus maka sipemilih akan mendapatkan suatu kebodohan. Apa itu kebodohannya ? Kebodohannya ialah sipemilih akan mendapatkan janji-janji busuk yang tidak masuk akal, tidak mementingkan bagaimana negeri ini dimasa depan yang akan datang. kambali kita berpikir mengenai GENERASI yang dipimpin oleh pemimpin yang bertolak belakang dengan kemajuan negeri ini. melihat sifat politikus pada saat ini yang secara tidak langsung memelihara masyarakat bodoh unt...

Melawan kebusukan dengan kecerdasan dalam memilih

Melawan kebusukan dengan kecerdasan dalam memilih Pemilih di negeri ini akan mendapat lima lembar kartu suara. Ada pemilihan presiden dan wakilnya, pemilihan anggota DPD, pemilihan DPR RI, pemilihan DPR Provinsi, dan pemilihan DPRD kabupaten/kota. Membayangkan jumlah surat suara saja kita sudah akan ribet. Padahal, dalam urusan menentukan hak pilih tak perlu ribet. Masuk TPS dan coblos. Namun, faktanya tak segampang itu. Banyak rakyat di negeri ini sudah dicekoki berbagai analogi. Persaingan tagar Ganti Presiden yang sedemikan panas belakangan ini tentu akan tambah mendidih menjelang Pilpres. Di daerah, persaingan antarcalon legislatif juga akan panas. Transaksi juga tetap berpotensi terjadi. Ini tentu bukan hal yang gampang dikelola jika rakyat di negeri ini tak diedukasi untuk mengelola pesta politik secara bijak. Rakyat harus dibina agar cerdas dalam berpolitik, agar politisi yang dipercaya nanti benar-benar paham dengan NKRI. Politisi dan media massa jangan terus mela...

Mengenal gaya kepemimpinan

Ketika orang-orang menginginkan demokratis. Demokratis itu perlu, ditambah lagi dengan masalah-maaalah yang timbul belakangan ini. Sebahagian besar sudut pandang masyarakat terfokus pada pemimpinnya itu sendiri, bagaimana seorang pemimpin meenjadi nahkoda yang siap untuk mempengaruhi banyak orang juga mengembangkan potensi, bakat dari orang2 yang didalamnya. Menilik sedikit tentang demokratis sangat berkaitan erat dengan kegiatan partisipan dan bebasnya mengemukakan pendapat atau ide2. Hal ini yang mengacu pada revolusi mental orang2 yang berada didalamnya tanpa sebuah tekanan, Berani mengemukakan pendapat adalah hal yang wajar demi kemajuan wadah tsbt. Persoalan kepemimpinan memberikan kesan yan menarik. Oleh karena itu permasalahan kepemimpinan merupakan topik yang menarik dan dapat dimulai dari sudut mana saja bahkan dari waktu kewaktu menjadi perhatian menusia. Ada yang berpendapat bahwa masalah kepemimpinan dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan kelebihan-kele...