Skip to main content

Melawan kebusukan dengan kecerdasan dalam memilih


Melawan kebusukan dengan kecerdasan dalam memilih
Image result for tps


Pemilih di negeri ini akan mendapat lima lembar kartu suara. Ada pemilihan presiden dan wakilnya, pemilihan anggota DPD, pemilihan DPR RI, pemilihan DPR Provinsi, dan pemilihan DPRD kabupaten/kota. Membayangkan jumlah surat suara saja kita sudah akan ribet. Padahal, dalam urusan menentukan hak pilih tak perlu ribet. Masuk TPS dan coblos.
Namun, faktanya tak segampang itu. Banyak rakyat di negeri ini sudah dicekoki berbagai analogi. Persaingan tagar Ganti Presiden yang sedemikan panas belakangan ini tentu akan tambah mendidih menjelang Pilpres.
Di daerah, persaingan antarcalon legislatif juga akan panas. Transaksi juga tetap berpotensi terjadi. Ini tentu bukan hal yang gampang dikelola jika rakyat di negeri ini tak diedukasi untuk mengelola pesta politik secara bijak.

Rakyat harus dibina agar cerdas dalam berpolitik, agar politisi yang dipercaya nanti benar-benar paham dengan NKRI. Politisi dan media massa jangan terus melakukan propaganda politik yang ujungnya berpotensi menimbulkan dikotomi antara kelompok nasionalis dan non-nasionalis.
Yang jelas, kita harus membangun kesadaran utuh bahwa pesta politik merupakan salah proses menuju perbaikan lewat regenerasi kepemimpinan. Pengelolaan pesta yang baik dan bermartabat tentu akan mengantarkan kita pada pilihan politik yang berkualitas.
Sayangnya, sering kali kita gagal menerjemahkan pesta politik ini. Kegagalan mengelola pesta politik memang bisa disebabkan banyak faktor. Salah satu di antaranya kemalasan kita menggunakan hak pilih. Banyaknya angka golput pada setiap pesta politik membuktikan masih banyak pemegang suara yang malas ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).\

Kondisi ini atau gejala ini tentu harus segera dinetralisasi. Kemalasan menggunakan hak pilih dengan tidak mendatangi bilik TPS tentu merupakan kerugian bagi kita. Ketika orang dengan caranya memilih pemimpin dan wakilnya untuk periode lima  tahun ke depan, maka kita mestinya rela meluangkan waktu untuk datang ke TPS.
Kita jangan sampai menjadi pemilih yang golput. Ini tak bijak dalam  pengelolaan pesta politik yang bertujuan untuk mencari pemimpin bangsa. Maka ajakan yang paling pas untuk terus digemakan adalah mari datangi TPS dan gunakan hak pilih.

Dalam konteks mengelola hak suara tentu ada banyak hal yang harus dipertimbangkan baik secra logika maupun kekerabatan. Kita janganlah menjadi pemilih yang dikendalikan karena uang dan janji-janji pragmatis. Idealisme tentu harus kita kedepankan dalam menggunakan hak pilih.
Pilihan yang didasari transaksional jangan sampai menghancurkan pesta politik itu sendiri. Mari kita tolak cara–cara transaksional dalam demokrasi politik 17 April mendatang. Jadilah pemilih bijak setelah mencermati paparan dan kinerja para calon yang akan merebut suara pemilih.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengenal gaya kepemimpinan

Ketika orang-orang menginginkan demokratis. Demokratis itu perlu, ditambah lagi dengan masalah-maaalah yang timbul belakangan ini. Sebahagian besar sudut pandang masyarakat terfokus pada pemimpinnya itu sendiri, bagaimana seorang pemimpin meenjadi nahkoda yang siap untuk mempengaruhi banyak orang juga mengembangkan potensi, bakat dari orang2 yang didalamnya. Menilik sedikit tentang demokratis sangat berkaitan erat dengan kegiatan partisipan dan bebasnya mengemukakan pendapat atau ide2. Hal ini yang mengacu pada revolusi mental orang2 yang berada didalamnya tanpa sebuah tekanan, Berani mengemukakan pendapat adalah hal yang wajar demi kemajuan wadah tsbt. Persoalan kepemimpinan memberikan kesan yan menarik. Oleh karena itu permasalahan kepemimpinan merupakan topik yang menarik dan dapat dimulai dari sudut mana saja bahkan dari waktu kewaktu menjadi perhatian menusia. Ada yang berpendapat bahwa masalah kepemimpinan dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan kelebihan-kele...
"POLITIKUS SEPERTI KOKI" Tahun politik sekarang sudah tidak sehat.  Politikus sudah gemar menjadi koki yang siap menggoreng dengan berbagai bumbu, sekalipun bumbu micin yang digunakan, ia tidak peduli walau tahu micin dapat mempengaruhi kesehatan tubuh bagi para penikmat masakan sang koki. Gambar ilustrasi Sama halnya dengan situasi sekarang ini, dimana saat tahun politik menjadi ajang perlombaan masakan siapa yang paling nikmat. Chef dan koki menjadi peran utama dalam pemenangan, berbagai cara yang dianggap mampu memenangkan perlombaan, mereka dituntut untuk memberikan masakan ternikmat, sekalipun mereka memberikan isu agama, isu pembohongan publik sehingga menjadi pemecah belah bangsa.. Dalam alam politik sebenarnya tidak ada yang namanya persaudaraan, kekeluargaan, dan kemanusiaan yang utuh, yang ada dalam politik ialah bagaimana cara merebut kekuasaan dan kemenangan. Politik hanya sebagai permainan dinamis, sudah tidak sewajarnya bila kita mengikuti alur poli...

MENOLAK LUPA PERAN MAHASISWA DAN PENTINGNYA BERPIKIR RASIONAL PERSPEKTIF LUAS

MENOLAK LUPA PERAN MAHASISWA DAN PENTINGNYA BERPIKIR RASIONAL PERSPEKTIF LUAS Mahasiswa dapat dikatakan sebagai penerus bangsa. mereka dalam dewasa ini dipercaya untuk menjadikan bangsa lebih maju kedepan. Namun, kepercayaan itu tidaklah berarti apa-apa jika mahasiswa tidak dapat mengendalikannya dalam pemikiran perspektif luas, baik secara intelektual, kecerdasan emosional, dan lain-lain. Bicara soal intelektual mahasiswa menjadikannya sebagai pedoman untuk melakukan suatu hal yang sesuai dengan menggunakan pengetahuannya yang senantiasa turut berpikir dan mengembangkannya serta menyumbangkan gagasan itu sndiri demi kemajuan masyarakat banyak, mahasiswa juga dituntut untuk ketajaman berpikir agar dapat mengkaji segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama dimana mahasiswa itu hadir untuk merealisasikannya, lebih dari itu seorang mahasiswa intelektual juga harus mengetahui kebenarannya sehingga dapat memperjuangkan sekalipun mendapati tekanan serta ancaman, yang kemudian ...