Ketika Politikus Mengangkangi Manusia
Dalam opini ini, saya akan memandang tentang krisis
kemanusiaan. Terkhusus dalam penerapan pola pikir dan ambisi kekuasaan dalam Negara.
Lebih terkhusus lagi dalam lingkungan kampus. Kampus yang dikenal sebagai
tempat bagi mahasiswa yang dewasanya untuk membawa perubahan dalam bernegara
kearah yang lebih baik kini menjadi lahan untuk memenangkan politik.
Manusia yang dianggap seperti rakyat yang selalu menuntut
keadilan, kapankah keadilan itu ada ?. sekarang kita hidup dalam berbagai
konflik sosial politik yang semakin memburuk. Kejadian seperti ini yang menjadi
sumber perpecahan. Pada akhirnya, menciptakan manusia yang membenarkan
bagaimana cara bertahan dan cara berpikir dalam melihat situasi. Situasi seperti
ini membuat manusia yang menghalalkan segala cara dan saling menyakiti. Semua itu
bermula dari sengketa pemikiran, ideologi, serta didrorong dalam tabiat manusia
yang haus akan kekuasaan. Keinginan manusia yang mengabil sebagai politikus mendorong
kita untuk ikut merealisasikan kekuasaan itu. Bahkan, perpecahan sudah menjadi
hal yang biasa dan lumrah bagi politik kotornya dan dipandang sebagai bagian
dari revolusi.
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Untuk semua agenda ini politikus tak segan menjual nama
Tuhan, kesucian nama-Nya diecer atas nama perdamaian. Demi perang membawa
damai, simbol-Nya seperti dipelacurkan dan itu sudah biasa.
Bukan hanya itu, pemikiran rakyat awampun seolah menjadi
kambing hitam dalam daya nalar sang politikus. Disamping itu, manusia yang
menjadi korban, mereka adalah orang-orang yang termajinalisasi dari pemikiran
sempitnya. Nalar politiknya sang politikus menghantam mereka dalam bahasa
cerdiknya.
Justru mereka yang mengaku terpelajar dan mengaku arif
bijaksanalah sebagai aktor yang dinamakan politikus.

Comments
Post a Comment