Skip to main content

Posts

Melawan kebusukan dengan kecerdasan dalam memilih

Melawan kebusukan dengan kecerdasan dalam memilih Pemilih di negeri ini akan mendapat lima lembar kartu suara. Ada pemilihan presiden dan wakilnya, pemilihan anggota DPD, pemilihan DPR RI, pemilihan DPR Provinsi, dan pemilihan DPRD kabupaten/kota. Membayangkan jumlah surat suara saja kita sudah akan ribet. Padahal, dalam urusan menentukan hak pilih tak perlu ribet. Masuk TPS dan coblos. Namun, faktanya tak segampang itu. Banyak rakyat di negeri ini sudah dicekoki berbagai analogi. Persaingan tagar Ganti Presiden yang sedemikan panas belakangan ini tentu akan tambah mendidih menjelang Pilpres. Di daerah, persaingan antarcalon legislatif juga akan panas. Transaksi juga tetap berpotensi terjadi. Ini tentu bukan hal yang gampang dikelola jika rakyat di negeri ini tak diedukasi untuk mengelola pesta politik secara bijak. Rakyat harus dibina agar cerdas dalam berpolitik, agar politisi yang dipercaya nanti benar-benar paham dengan NKRI. Politisi dan media massa jangan terus mela...
Recent posts

Ketika Politikus Mengangkangi Manusia

Ketika Politikus Mengangkangi Manusia Dalam opini ini, saya akan memandang tentang krisis kemanusiaan. Terkhusus dalam penerapan pola pikir dan ambisi kekuasaan dalam Negara. Lebih terkhusus lagi dalam lingkungan kampus. Kampus yang dikenal sebagai tempat bagi mahasiswa yang dewasanya untuk membawa perubahan dalam bernegara kearah yang lebih baik kini menjadi lahan untuk memenangkan politik. Manusia yang dianggap seperti rakyat yang selalu menuntut keadilan, kapankah keadilan itu ada ?. sekarang kita hidup dalam berbagai konflik sosial politik yang semakin memburuk. Kejadian seperti ini yang menjadi sumber perpecahan. Pada akhirnya, menciptakan manusia yang membenarkan bagaimana cara bertahan dan cara berpikir dalam melihat situasi. Situasi seperti ini membuat manusia yang menghalalkan segala cara dan saling menyakiti. Semua itu bermula dari sengketa pemikiran, ideologi, serta didrorong dalam tabiat manusia yang haus akan kekuasaan. Keinginan manusia yang mengabil sebagai pol...
"POLITIKUS SEPERTI KOKI" Tahun politik sekarang sudah tidak sehat.  Politikus sudah gemar menjadi koki yang siap menggoreng dengan berbagai bumbu, sekalipun bumbu micin yang digunakan, ia tidak peduli walau tahu micin dapat mempengaruhi kesehatan tubuh bagi para penikmat masakan sang koki. Gambar ilustrasi Sama halnya dengan situasi sekarang ini, dimana saat tahun politik menjadi ajang perlombaan masakan siapa yang paling nikmat. Chef dan koki menjadi peran utama dalam pemenangan, berbagai cara yang dianggap mampu memenangkan perlombaan, mereka dituntut untuk memberikan masakan ternikmat, sekalipun mereka memberikan isu agama, isu pembohongan publik sehingga menjadi pemecah belah bangsa.. Dalam alam politik sebenarnya tidak ada yang namanya persaudaraan, kekeluargaan, dan kemanusiaan yang utuh, yang ada dalam politik ialah bagaimana cara merebut kekuasaan dan kemenangan. Politik hanya sebagai permainan dinamis, sudah tidak sewajarnya bila kita mengikuti alur poli...
"kerbau", yang hingga kini menjadi sumber filosofi dari kehidupan baik itu suku, daerah, adat, dsb. Salah satu contohnya daerah sumatera barat khususnya suku minangkabau. Mengapa demikian ? Alkisah dahulu kala ranah pagaryuang yang berada disumatera barat mendapat ancaman dari salah satu kerajaan perkasa pulau jawa, namun ancaman itu dapat diredam dari warga desa pagaruyuang melalui diplomasi serta mengusulkan pergantian perang tersebut menjadi "adu kerbau" dengan maksud agar menghindari perang fisik. Kemudian kerajaan dari jawapun menyetujui permintaan warga minang kabau tersebut dengan menurunkan kerbau besar yang diperkirakan mampu mengalahkan kerbau dari minangkabau. Berbeda dengan warga desa pagaruyuang itu sendiri, mereka lebih memilih anak kerbau kecil yang sudah lama tidak minum susu kemudian dipasang taji ditanduknya. Saat dimulai pertarungan, anak kerbau itu mengejar susu kerbau besar itu yang dikira sebagai ibunya sehingga mengenai perut kerbau bes...

73 Tahun Indonesia Merdeka !

"73 tahun sudah", begitulah yang terlintas dalam benak ini yang tak luput kembali mengingat hari kemerdekaan Republik Indonesia. Apa yang pantas diingat ketika kala itu mengingat sejarah menjelang hari kemerdekaan begitu banyak proses yang dilalui, begitu pula dengan para pejuang yang turut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan atas penjajahan. lalu bagaimana dengan perjuangan pemuda zaman sekarang?, apakah dengan mengangkat tombak sama seperti ketika zaman penjajahan? Tentu tidak, perjuangan yang harus dilakukan sekarang adalah perjuangan lanjutan dari para pahlawan kita yaitu perjuangan melawan kemiskinan, perjuangan melawan ketidak adilan, perjuangan melawan pemecahbelah Bangsa, itulah perjuangan yang akan dilakukan oleh kita generasi muda . 73 tahun sudah, Merdeka menjadi alasan mengapa saat ini warga negara turut memperingatinya. Bicara soal merdeka memiliki makna yang cukup luas, merdeka ketika mampu berpendapat, merdeka ketika mampu bertanggung jawab, merdeka k...

PANCASILA BUKAN UNTUK DILUPAKAN

 ''  PANCASILA BUKAN UNTUK DILUPAKAN '' Sebagai warga Negara dengan selalu menginginkan Negara lebih baik sudah merupakan tanggung jawab moral dari anak bangsa itu sendiri agar saling mengingatkan baik itu dengan individu terhadap individu, individu terhadap kelompok, kelompok terhadap individu, kelompok terhadap kelompok supaya dewasanya saling menghargai jasa-jasa para pencetus, pahlawan demi membangun bangsa ini kearah lebih baik dan bermartabat.   Maka dari itu, saya tertarik untuk menulis dalam postingan saya tentang “Pancasila bukan untuk dilupakan”. Namun mengapa saya mengangkat tema ini ? dalam beberapa diskusi baik mengenai Pancasila, sering saya mendengar dan menyaksikan bahwa pada saat ini individu sebagai anak bangsa itu sendiri sudah mulai melupakan ideologi bangsa itu sendiri, meskipun tidak semuanya benar. Hal ini yang menjadikan renungan untuk kita sehingga saya menulisnya. Namun dilain sisi Pancasila sudah merupakan sesuatu yang final se...
KINI TEMPAT IBADAHKU BERPARTISIPASI DALAM GERAKAN POLITIK Dalam musim politik pada saat ini, dapat dikatakan sangat tidak wajar diNegeri ini Tidak wajarnya pada kegiatan politik belakangan ini dikarenakan rumah ibadah yang suci kini telah dijadikan suatu alat untuk mempermudah segala urusan politik kotor dengan masuk keranah rumah ibadah Rumah ibadah yang kita kenal sebagai urusan kita dengan Tuhan dan tempat dimana kita dapat menenangkan diri kini menjadi porak poranda dengan cacian antar manusia dengan penyalahgunaan ayat-ayat suci keagamaan demi menaikkan suatu politikus tersebut. Terhenyu melihatnya. Bagaimana tidak, rumah ibadah yang dikenal sebagai tempat untuk mencari ketenangan kini telah terkontaminasi dengan kegiatan politik yang secara tidak langsung ikut menjadikan perpecahan antar umat beragama dikarenakan berbeda pandangan dengan calonnya yang tidak lagi membicarakan kepentingan beragama. Melihat kejadian itu saya resah, dimana telah menyaksikan ...