Melawan kebusukan dengan kecerdasan dalam memilih Pemilih di negeri ini akan mendapat lima lembar kartu suara. Ada pemilihan presiden dan wakilnya, pemilihan anggota DPD, pemilihan DPR RI, pemilihan DPR Provinsi, dan pemilihan DPRD kabupaten/kota. Membayangkan jumlah surat suara saja kita sudah akan ribet. Padahal, dalam urusan menentukan hak pilih tak perlu ribet. Masuk TPS dan coblos. Namun, faktanya tak segampang itu. Banyak rakyat di negeri ini sudah dicekoki berbagai analogi. Persaingan tagar Ganti Presiden yang sedemikan panas belakangan ini tentu akan tambah mendidih menjelang Pilpres. Di daerah, persaingan antarcalon legislatif juga akan panas. Transaksi juga tetap berpotensi terjadi. Ini tentu bukan hal yang gampang dikelola jika rakyat di negeri ini tak diedukasi untuk mengelola pesta politik secara bijak. Rakyat harus dibina agar cerdas dalam berpolitik, agar politisi yang dipercaya nanti benar-benar paham dengan NKRI. Politisi dan media massa jangan terus mela...
Ketika Politikus Mengangkangi Manusia Dalam opini ini, saya akan memandang tentang krisis kemanusiaan. Terkhusus dalam penerapan pola pikir dan ambisi kekuasaan dalam Negara. Lebih terkhusus lagi dalam lingkungan kampus. Kampus yang dikenal sebagai tempat bagi mahasiswa yang dewasanya untuk membawa perubahan dalam bernegara kearah yang lebih baik kini menjadi lahan untuk memenangkan politik. Manusia yang dianggap seperti rakyat yang selalu menuntut keadilan, kapankah keadilan itu ada ?. sekarang kita hidup dalam berbagai konflik sosial politik yang semakin memburuk. Kejadian seperti ini yang menjadi sumber perpecahan. Pada akhirnya, menciptakan manusia yang membenarkan bagaimana cara bertahan dan cara berpikir dalam melihat situasi. Situasi seperti ini membuat manusia yang menghalalkan segala cara dan saling menyakiti. Semua itu bermula dari sengketa pemikiran, ideologi, serta didrorong dalam tabiat manusia yang haus akan kekuasaan. Keinginan manusia yang mengabil sebagai pol...